AHLAN WA SAHLAN - SEMOGA BLOG INI DAPAT MEMBANTU ANDA - SILAHKAN MENULIS PESAN KRITIK DAN SARAN ^_^

Thursday, August 18, 2011

Kode Etik Apoteker

MUKADIMAH

Bahwasanya seorang Apoteker di dalam menjalankan tugas kewajiban nya serta dalam mengamalkan keahliannya harus senantiasa mengharapkan bimbingan dan keridhaan Tuhan Yang Maha Esa

Apoteker di dalam pengabdiannya kepada nusa dan bangsa serta di dalam mengamalkan keahliannya selalu berpegang teguh kepada sumpah/janji Apoteker.

Menyadari akan hal tersebut Apoteker di dalam pengabdian profesinya berpedoman pada satu ikatan moral yaitu :

KODE ETIK APOTEKER INDONESIA

BAB I

KEWAJIBAN UMUM

Pasal 1

Sumpah/Janji

Setiap Apoteker harus menjunjung tinggi, menghayati dan mengamalkan Sumpah Apoteker.

Pasal 2

Setiap Apoteker harus berusaha dengan sungguh-sungguh menghayati dan mengamalkan Kode Etik Apoteker Indonesia.

Pasal 3

Setiap Apoteker harus senantiasa menjalankan profesinya sesuai kompetensi Apoteker Indonesia serta selalu mengutamakan dan berpegang teguh pada prinsip kemanusiaan dalam melaksanakan kewajibannya.

Pasal 4

Setiap Apoteker harus selalu aktif mengikuti perkembangan di bidang kesehatan pada umumnya dan di bidang farmasi pada khususnya.

Pasal 5

Di dalam menjalankan tugasnya setiap Apoteker harus menjauhkan diri dari usaha mencari keuntungan diri semata yang bertentangan dengan martabat dan tradisi luhur jabatan kefarmasian.

Pasal 6

Seorang Apoteker harus berbudi luhur dan menjadi contoh yang baik bagi orang lain.

Pasal 7

Seorang Apoteker harus menjadi sumber informasi sesuai dengan profesinya.

Pasal 8

Seorang Apoteker harus aktif mengikuti perkembangan peraturan perundang-undangan di Bidang Kesehatan pada umumnya dan di Bidang Farmasi pada khususnya.

BAB II

KEWAJIBAN APOTEKER TERHADAP PENDERITA

Pasal 9

Seorang Apoteker dalam melakukan pekerjaan kefarmasian harus mengutamakan kepentingan masyarakat dan menghormati hak asazi penderita dan melindungi makhluk hidup insani.

BAB III

KEWAJIBAN APOTEKER TERHADAP TEMAN SEJAWAT

Pasal 10

Setiap Apoteker harus memperlakukan Teman Sejawatnya sebagaimana ia sendiri ingin diperlakukan.

Pasal 11

Sesama Apoteker harus selalu saling mengingatkan dan saling menasehati untuk mematuhi ketentuan-ketentuan Kode Etik.

Pasal 12

Setiap Apoteker harus mempergunakan setiap kesempatan untuk meningkatkan kerjasama yang baik sesama Apoteker di dalam memelihara keluhuran martabat jabatan kefarmasian, serta mempertebal rasa saling mempercayai di dalam menunaikan tugasnya.

BAB IV

KEWAJIBAN APOTEKER/FARMASIS TERHADAP SEJAWAT PETUGAS KESEHATAN LAINNYA

Pasal 13

Setiap Apoteker harus mempergunakan setiap kesempatan untuk membangun dan meningkatkan hubungan profesi, saling mempercayai, menghargai dan menghormati Sejawat Petugas Kesehatan.

Pasal 14

Setiap Apoteker hendaknya menjauhkan diri dari tindakan atau perbuatan yang dapat mengakibatkan berkurangnya/hilangnya kepercayaan masyarakat kepada sejawat petugas kesehatan lainnya.

BAB V

PENUTUP

Pasal 15

Setiap Apoteker bersungguh-sungguh menghayati dan mengamalkan Kode Etik Apoteker Indonesia dalam menjalankan tugas kefarmasiannya sehari-hari. Jika seorang Apoteker baik dengan sengaja maupun idtak sengaja melanggar atau tidak mematuhi Kode Etik Apoteker Indonesia, maka Apoteker tersebut wajib mengakui danmenerima sanksi dari pemerintah, Ikatan/Organisasi Profesi Farmasi yang menanganinya yaitu ISFI dan mempertanggungjawabkannya kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Ditetapkan di Denpasar

Pada tanggal:18 Juni 2005

Thursday, June 23, 2011

Perkembangan Farmakologi di Era Khilafah

''Setiap penyakit pasti ada obatnya.'' Sabda Rasulullah SAW yang begitu populer di kalangan umat Islam itu tampaknya telah memicu para ilmuwan dan sarjana di era kekhalifahan untuk berlomba meracik dan menciptakan beragam obat-obatan. Pencapaian umat Islam yang begitu gemilang dalam bidang kedokteran dan kesehatan di masa keemasan tak lepas dari keberhasilan di bidang farmakologi dan farmasi.

Di masa itu para dokter dan ahli kimia Muslim sudah berhasil melakukan penelitian ilmiah mengenai komposisi, dosis, penggunaan, dan efek dari obat-obat sederhana serta campuran. Menurut Howard R Turner dalam bukunya Science in Medievel Islam, umat Islam mulai menguasai farmakologi dan farmasi setelah melakukan gerakan penerjemahan secara besar-besaran di era Kekhalifahan Abbasiyah.

Salah satu karya penting yang diterjemahkan adalah De Materia Medica karya Dioscorides. Selain itu para sarjana dan ilmuwan Muslim juga melakukan transfer pengetahuan tentang obat-obatan dari berbagai naskah yang berasal dari Suriah, Persia, India, serta Timur Jauh.

Karya-karya terdahulu itu telah membuat para ilmuwan Islam terinspirasi untuk melahirkan berbagai inovasi dalam bidang farmakologi. ''Kaum Muslimin telah menyumbang banyak hal dalam bidang farmasi dan pengaruhnya sangat luar biasa terhadap Barat,'' papar Turner.

Betapa tidak, para sarjana Muslim di zaman kejayaan telah memperkenalkan adas manis, kayu manis, cengkeh, kamper, sulfur, serta merkuri sebagai unsur atau bahan racikan obat-obatan. Menurut Turner umat Islam-lah yang mendirikan warung pengobatan pertama. Para ahli farmakologi Islam juga termasuk yang pertama dalam mengembangkan dan menyempurnakan pembuatan sirup dan julep.

Pada awalnya, farmasi dan farmakologi merupakan bagian yang tak terpisahkan dari ilmu kedokteran. Dunia farmasi profesional secara resmi terpisah dari ilmu kedokteran di era kekuasaan Kekhalifahan Abbasiyah. Terpisahnya farmasi dari kedokteran pada abad ke-8 M, membuat farmakolog menjadi profesi yang independen dan farmakologi sebagai ilmu yang berdiri sendiri.

Dalam praktiknya, farmakologi dan farmasi melibatkan banyak praktisi seperti herbalis, kolektor, penjual tumbuhan, rempah-rempah untuk obat-obatan, penjual dan pembuat sirup, kosmetik, air aromatik, serta apoteker yang berpengalaman. Merekalah yang kemudian turut mengembangkan farmasi di era kejayaan Islam.

Setelah dinyatakan terpisah dari ilmu kedokteran, beragam penelitian dan pengembangan dalam bidang farmasi atau saydanah (bahasa Arab) kian gencar dilakukan. Pada abad itu, para sarjana dan ilmuwan Muslim secara khusus memberi perhatian untuk melakukan investigasi atau pencarian terhadap beragam produk alam yang bisa digunakan sebagai obat-obatan di seluruh pelosok dunia Islam.

Di zaman itu, toko-toko obat bermunculan bak jamur di musim hujan. Toko obat yang banyak jumlahnya tak cuma hadir di kota Baghdad - kota metropolis dunia di era kejayaan Abbasiyah - namun juga di kota-kota Islam lainnya. Para ahli farmasi ketika itu sudah mulai mendirikan apotek sendiri. Mereka menggunakan keahlian yang dimilikinya untuk meracik, menyimpan, serta menjaga aneka obat-obatan.

Pemerintah Muslim pun turun mendukung pembangunan di bidang farmasi. Rumah sakit milik pemerintah yang ketika itu memberikan perawatan kesehatan secara cuma-cuma bagi rakyatnya juga mendirikan laboratorium untuk meracik dan memproduksi aneka obat-obatan dalam skala besar.

Keamanan obat-obatan yang dijual di apotek swasta dan pemerintah diawasi secara ketat. Secara periodik, pemerintah melalui pejabat dari Al-Muhtasib - semacam badan pengawas obat-obatan - mengawasi dan memeriksa seluruh toko obat dan apotek. Para pengawas dari Al-Muhtasib secara teliti mengukur akurasi berat dan ukuran kemurnian dari obat yang digunakan.

Pengawasan yang amat ketat itu dilakukan untuk mencegah penggunaan bahan-bahan yang berbahaya dalam obat dan sirup. Semua itu dilakukan semata-mata untuk melindungi masyarakat dari bahaya obat-obatan yang tak sesuai dengan aturan. Pengawasan obat-obatan yang dilakukan secara ketat dan teliti yang telah diterapkan di era kekhalifahan Islam mestinya menjadi contoh bagi negara-negara Muslim, khususnya Indonesia.

Seperti halnya di bidang kedokteran, dunia farmasi profesional Islam telah lebih unggul lebih dulu dibandingkan Barat. Ilmu farmasi baru berkembang di Eropa mulai abad ke-12 M atau empat abad setelah Islam menguasainya. Karena itulah, Barat banyak meniru dan mengadopsi ilmu farmasi yang berkembang terlebih dahulu di dunia Islam.

Umat Islam mendominasi bidang farmasi hingga abad ke-17 M. Setelah era keemasan perlahan memudar, ilmu meracik dan membuat obat-obatan kemudian dikuasai oleh Barat. Negara-negara Eropa yang menguasai farmasi dari aneka risalah Arab dan Persia tentang obat dan senyawa obat yang ditulis para sarjana dan ilmuwan Islam. Tak heran, bila kini industri farmasi dunia berada dalam genggaman Barat.

Pengaruh kaum Muslimin dalam bidang farmasi di dunia Barat begitu besar. "Hal itu tecermin dalam kembalinya minat terhadap pengobatan natural yang begitu populer dalan pendidikan kesehatan saat ini," papar Turner. Mungkinkah umat Islam kembali menguasai dan mendominasi bidang farmasi seperti di era keemasan?

Friday, May 6, 2011

Apakah Apoteker di Apotek Under Valued ?


Bicara tentang standar pendapatan bagi apoteker yang berpraktek di apotek layaknya bicara mengenai kondisi ideal bangsa Indonesia, yakni masyarakat yang adil dan makmur. Meski negara kita sudah merdeka lebih dari setengah abad namun baru segelintir anggota masyarakat yang bisa merasakan kondisi adil dan makmur. Begitu juga dengan para apoteker di apotek. Mungkin mereka yang tergolong senior sudah merasakannya, tapi tidak demikian bagi para yunior.

Berbagai upaya telah dan terus dicoba untuk memformulasikan standar pendapatan apoteker di apotek, namun rupanya belum bisa menjawab tuntas beragam pertanyaan yang ada. Memang harus disadari bahwa kondisi apotek sangat beragam, sehingga secara langsung membawa konsekuensi beragam pula variabel yang melekat padanya. Saya tidak tahu kebenarannya, tapi saya pernah mendapat pesan melalui facebook katanya ada apoteker yang bersedia diberi honor jauh dibawah Upah Minimum Provinsi perbulan asalkan tidak perlu datang ke apotek alias tekab. Keterlaluan !

Sebenarnya berapa angka yang “pantas” diterima oleh apoteker yang berpraktek di apotek sebagai kompensasi atas pengabdiannya ? Faktor apa saja yang patut dipertimbangkan sebagai variabel untuk menghitungnya ? Apakah jumlahnya sudah sebanding dengan tanggungjawabnya ? Apakah perlu dibuat standart secara nasional ? Siapa yang harus menentukan ? Dan seterusnya, dan seterusnya… Pertanyaan-pertanyaan diatas barangkali mendesak untuk dijawab secara tuntas agar dapat memotivasi sekaligus membangkitkan gairah para sejawat di apotek.

Dalam tinjauan manajemen SDM dikenal istilah measuring job value yaitu sebuah konsep yang memberi informasi mengenai berapa harga yang paling tepat untuk sebuah jabatan. Proses untuk menelisik job value sering disebut sebagai job evaluation. Istilah ini merujuk pada sebuah ikhtiar untuk mengevaluasi segenap komponen yang melekat dalam suatu jabatan, dan kemudian menghitung berapa harga yang paling pantas untuk pekerjaan itu.

Apoteker di apotek memang bukan bekerja, tetapi berpraktek, sehingga kalau ada yang keberatan dengan istilah job value bisa difahami. Akan tetapi selagi kondisi belum memungkinkan bagi apoteker untuk memungut professional fee kepada konsumen, pendekatan mengukur nilai sebuah pekerjaan yang melekat pada jabatan bisa dipakai sebagai acuan memformulasikan standar pendapatan apoteker di apotek.

Dalam konteks tersebut minimal ada 4 faktor yang bisa digunakan sebagai kriteria baku untuk menghitung harga sebuah jabatan. Faktor yang pertama biasanya berkaitan dengan aspek kompetensi teknis yang dibutuhkan untuk melakukan sebuah pekerjaan. Apoteker adalah sebuah profesi yang mensyaratkan kompetensi. Oleh karena itu kompetensi teknis apoteker harus dinilai dengan angka yang sepadan.

Faktor yang kedua adalah impact of decisions. Apakah dampak keputusan yang dihasilkan oleh jabatan ini bersifat signifikan dan lintas sektoral ataukah hanya sekedar punya pengaruh yang terbatas? Disini yang diuji adalah seberapa ekspansif dampak keputusan yang dihasilkan oleh sebuah jabatan. Keputusan yang diambil apoteker di apotek sejatinya sangat luas. Ambil contoh keputusan untuk melayani atau menolak resep, memberi atau tidak permintaan obat keras tanpa resep dokter dan sebagainya.

Faktor berikutnya job complexity. Aspek ini merujuk pada sejauh mana level kompleksitas yang dibutuhkan dalam mengelola suatu jabatan. Kompleksitas disini mengacu baik pada aspek teknis operasional ataupun dalam aspek konsep dan kedalaman analisa untuk menuntaskan sebuah pekerjaan. Kalau apoteker konsekuen menjalankan perannya sebagai pengelola tertinggi disebuah apotek maka tugas apoteker tidaklah sederhana.

Sedangkan faktor yang terakhir adalah responsibility of others. Disini yang diuji adalah rentang kendali dan tanggung jawab dari suatu jabatan. Apakah ia memiliki jumlah anak buah yang banyak dan masing-masing memiliki jenis pekerjaan yang variatif; atau sebaliknya? Dan sampai dimana tingkat otoritas dan tanggungjawab jabatan ini dalam menggerakkan orang lain. Sekali lagi, tanggungjawab apoteker di apotek spektrumnya sungguh luas, mulai dari teknis kefarmasian sampai aspek bisnisnya agar apotek dapat bertahan dietnagh persaingan yang sangat ketat.

Demikianlah, berdasar empat faktor diatas maka terlihat bahwa “harga apoteker” sebenarnya tidak boleh dinilai terlalu murah. Tugas dan tanggungjawabnya tidak ringan. Apalagi bila tercapai keadaan dimana “nyawa “ apotek tergantung apoteker.

Jadi bagi sejawat yang merasa masih diperlakukan “undervalued“, cobalah introspeksi. Faktor mana yang paling dominan memberikan kontribusi sehingga sejawat berada dalam posisi “undervalued”. Jangan jangan kondisi tersebut terjadi karena sejawat hanya dihargai kompetensi formalnya saja karena tidak pernah datang ke apotek.

Sumber: apotekkita.com

Sunday, April 24, 2011

Cara Gunakan Handihaler Spiriva

Banyak orang menggunakan sehari sekali Spiriva untuk pemeliharaan pengobatan PPOK mereka . Spiriva adalah long-acting bronkodilator obat yang membuka saluran udara sehingga lebih mudah untuk bernapas. Bagian yang paling penting dari menggunakan Handihaler Spiriva, bagaimanapun, adalah menggunakannya dengan benar. Salah penggunaan inhaler merupakan kesalahan umum dan dapat berdampak negatif terhadap perawatan Anda.
Panduan Langkah-demi-langkah berikut ini akan menunjukkan cara yang benar untuk menggunakan Handihaler Spiriva:

Kesulitan: Mudah
Waktu yang dibutuhkan: 5 menit
Berikut Caranya:

1. Buka dustcap kelabu perangkat Handihaler Spiriva.
2. Buka bagian atas putih dari juru bicara Handihaler Spiriva. Itu akan mengungkapkan slot kecil dimana kapsul (juga dikenal sebagai reservoir kapsul) akan dimasukkan.
3. Lepaskan kapsul dari paket kapsul Spiriva. PENTING: YANG KAPSUL Spiriva PERNAH HARUS TERTELAN!
4. Tempatkan kapsul ke dalam reservoir kapsul Spiriva.
5. Tutup penutup mulut putih pada perangkat Handihaler Spiriva.
6. Tekan tombol di sisi Handihaler. Ini tusukan kapsul Spiriva dan memungkinkan pengobatan yang akan dirilis dan kemudian dihirup.
7. Tempatkan Handihaler Spiriva ke mulut Anda dan erat segel bibir Anda di sekitar corong telepon. Tarik napas dalam cepat dan mendalam melalui Handihaler Spiriva. Anda harus mendengar suara berderak-derak saat Anda mengambil napas dalam-dalam. Hal ini menunjukkan obat sedang dispensasi benar dari kapsul.
8. Jika mungkin, tahan napas Anda selama lima sampai sepuluh detik, kemudian bernapas keluar normal.
9. Bilas mulut Anda dengan air atau sikat gigi setelah setiap kali digunakan.
10.Buka penutup mulut putih dan menghapus kapsul dari reservoir kapsul.
11.Tutup penutup mulut putih dan abu-abu dustcap dari Handihaler Spiriva. Buang kapsul itu di tempat sampah.
12. Bersihkan Spiriva Anda Handihaler sebulan sekali sesuai instruksi produsen.

Tips:

1. Jangan menggunakan orang lain Spiriva Handihaler. Jauhkan ini dan semua obat lainnya jauh dari anak-anak.
2. Jangan menggunakan lebih dari dosis yang dianjurkan dari Spiriva.
3. Jangan menyimpan kapsul bekas atau belum dipakai di dalam Handihaler Spiriva.
4. Jangan menghapus kapsul dari paket sampai siap untuk digunakan. Hal tersebut dapat mengurangi efektivitas.
5. Hindari mendapatkan bubuk dari kapsul Spiriva ke mata Anda.

Apa yang Anda Butuhkan

Resep dari dokter Anda
Spiriva Handihaler
Spiriva kapsul

Cara Menggunakan Inhaler anda

MDI menghasilkan kadar tertentu obat PPOK dalam bentuk aerosol. MDI memungkinkan bagi Anda untuk menghirup obat PPOK Anda, bukan minum pil. Dengan demikian, obat PPOK anda kemudian langsung menuju ke paru-paru Anda

Sebelum menggunakan MDI, lepaskan tutup mulut dan kocok secara menyeluruh.
Jika Anda belum menggunakan inhaler selama seminggu atau lebih, atau itu adalah pertama kalinya anda menggunakan inhaler, semprot ke udara pertama untuk memeriksa bahwa ia bekerja.

Ambil napas panjang beberapa kali dan kemudian bernapas keluar dengan lembut.

Segera tempat corong di mulut Anda dan menempatkan Anda di sekitar gigi itu (tidak di depan dan jangan digigit), dan segel bibir Anda di sekitar mulut, memegang di antara bibir Anda.


Mulai untuk bernapas dalam perlahan dan mendalam melalui corong telepon. Ketika Anda bernapas dalam, secara bersamaan tekan ke bawah tabung inhaler untuk melepaskan obat. Satu siaran pers satu kali semprotan obat.Lanjutkan bernapas dalam-dalam untuk memastikan obat masuk ke paru-paru Anda

Tahan nafas Anda selama 10 detik atau selama Anda nyaman bisa, sebelum bernapas perlahan-lahan.

Jika Anda perlu mengambil puff lain, tunggu selama 30 detik, kocok inhaler Anda lagi kemudian ulangi langkah 2 sampai 6.


Ingatlah untuk membilas mulut Anda secara menyeluruh dengan air setelah setiap kali digunakan untuk membantu mengurangi efek samping mengganggu

Meteran-Dosis Inhaler: Cara Menggunakan dengan Benar

Apa yang dimaksud dengan inhaler meteran-dosis?

Sebuah inhaler meteran-dosis adalah alat yang membantu memberikan jumlah tertentu obat untuk paru-paru Anda. Hal ini biasanya digunakan untuk mengobati asma, penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) dan masalah pernapasan lainnya.

inhaler Masing-masing terdiri dari tabung bertekanan obat dan seorang juru bicara. Menekan pada inhaler melepaskan kabut obat yang Anda bernapas ke dalam paru-paru Anda. Sehingga saluran napas Anda menerima jumlah obat yang benar, adalah penting untuk menggunakan inhaler dengan benar.

Bagaimana saya menggunakan inhaler meteran-dosis dengan benar?

1. Lepaskan tutup terus tegak inhaler.
2. Shake inhaler.
3. Memiringkan kepala sedikit kembali dan bernapas.
4. Pegang inhaler seperti dalam salah satu gambar ke kanan. A atau B adalah yang paling efektif, tetapi C oke untuk orang-orang yang tidak dapat menggunakan A atau B.
5. Spacer berguna untuk semua pasien, terutama anak-anak muda dan orang dewasa yang lebih tua (lihat gambar B).
6.. Tekan ke bawah inhaler untuk melepaskan obat setelah Anda mulai menghirup perlahan.
7. Bernapas dalam perlahan-lahan selama 3 sampai 5 detik.
8. Tahan nafas Anda selama 10 detik untuk memungkinkan obat untuk pergi jauh ke paru-paru Anda.
9. tiupan Ulangi seperti yang diarahkan. Tunggu 1 menit antara tiupan untuk memungkinkan puff kedua untuk masuk ke dalam paru-paru yang lebih baik.

CATATAN: petunjuk ini untuk meteran inhaler dosis saja. inhalasi kapsul bubuk kering yang digunakan berbeda. Untuk menggunakan inhaler bubuk kering, tutup mulut Anda erat di corong penghirup dan bernapas dengan cepat. Bicarakan dengan dokter Anda jika Anda memiliki pertanyaan tentang bagaimana mengkonsumsi obat-obatan.

Berikut ini apa yang harus dilakukan:

A. Buka mulut. Tahan inhaler 1 sampai 2 inci jauhnya.
B. spacer Gunakan melekat pada inhaler.
C. Tahan inhaler di mulut Anda.







Bagaimana cara melacak berapa banyak obat saya gunakan?

Sangat penting untuk melacak berapa banyak obat yang telah digunakan sehingga Anda dapat merencanakan ke depan dan mengganti inhaler Anda sebelum Anda kehabisan obat. Salah satu cara untuk melakukan ini adalah dengan menulis tanggal isi ulang pada tabung itu sendiri. Gunakan metode berikut untuk mencari tahu ketika Anda akan perlu untuk mendapatkan isi ulang:
Mulailah dengan sebuah inhaler merek baru. Bagilah jumlah tiupan di tabung - tabung itu biasanya akan memiliki nomor ini dicetak di atasnya - dengan jumlah tiupan Anda ambil setiap hari. Nomor yang Anda dapatkan akan menjadi jumlah hari tabung harus terakhir. (Misalnya, jika Anda mengambil 4 semprotan setiap hari dari sebuah tabung 200-puff, Anda akan perlu memiliki tabung baru setiap 50 hari.)
Menggunakan kalender, hitung ke depan bahwa beberapa hari untuk melihat ketika obat Anda akan habis. Jadi Anda tidak akan kehabisan obat yang Anda gunakan setiap hari, pilih 1 atau 2 hari hari sebelum tanggal ini memiliki resep Anda diisi ulang.
Menggunakan spidol permanen, tulis tanggal isi ulang pada tabung, dan di kalender Anda.
Jika Anda menggunakan inhaler Anda untuk obat penyelamat, Anda mungkin tidak akan menggunakan secara teratur cukup untuk metode ini untuk bekerja. Dalam hal ini, tanyakan kepada dokter Anda jika ia akan menulis resep untuk dua inhaler pada suatu waktu. Kemudian mendapatkan resep Anda diisi ketika penghirup pertama adalah kosong. Dengan cara ini, Anda akan selalu memiliki obat penyelamatan cukup di tangan saat Anda membutuhkannya.